Posted in Puisi

Kau Hujanku

Ucapku tak mencinta
Hujan hanya rintik basah
Pikiranku hanya berteduh
Tak peduli penantian panjang

Kau hujan
Ajariku tarian hujan
Larangkan untuk terhenti
Memaksa detikku untuk berikan tawa

Dan kau ajarkan hujanmu
Tahuku, kini hujan rintik makna
Aku hanya ingin hentikan detik
Menari dengan hujanku tanpa batas

Dan kau hujanku..
Saat ku terpanah akan rintikmu
Terbawa melodi indahmu
Kau hentikan aliran

Hujanku entah kemana..
Apa berikan detik itu kelain?
Atau maumu ku berteduh?
Beriku lagi hujan kemarin..

Posted in Puisi

Bait dalam Lirikku

Bertemu denganmu adalah waktu
Waktu yang bisa ku hitung menit nya
Pesanmu adalah kesabaran
Hanya gulita alasan kau beriku pesan

Sungguh, rinduku padamu alasan
Bukan paksaan, tapi perasaan
Kini mataku terkadang tak tertampung
Tetes demi tetes tak segan tuangkan

Bukan merasa terbebanni
Hanya sedikit cemas
Aku takut pada rintik hujan yang jatuh pada rambutmu
Hingga batu yang buatmu tersandung

Peduliku tak sebesar angkasa
Peduliku tak seluas samudera
Atau bahkan tak sebanyak hitungan
Peduliku hanya makna yang tak ingin kesusahan didekatmu

Berikan aku pagi
Yang bisa kulihat dengan jelas di jendela
Atau beriku malam
Mungkin gelap, tapi masih bisa kulihat dengan retinaku

Dan hari ini kau lihat lirikku
Katanya dipenuhi kau
Kau bukan hanya lirik buatku
Kini kau menjelma sebagai bait di langkahku

Posted in Novel

Bad Mission *Part 3

Aku melihat semua orang berkumpul di satu meja makan yang sama. Selama ini aku selalu makan sendirian, Britch sibuk pada urusan nya.

Bunda: ‘Selamat pagi Dara, mari makan bersama’
Cara: ‘Selamat pagi’
Tasya: ‘Kau bisa duduk disebelah ku’
Nay: ‘Dia mungkin akan duduk dibawah meja makan’

Entah mengapa aku semakin membenci Nay

Farell: ‘Nay bukankah kita sudah bicarakan soal ini? Jangan sesekali kau bicara tak sopan pada tamu’
Nay: ‘Kakak begitu membela nya, dia hanya orang baru di sini, tak ada yang tahu dia miliki niat buruk’
Cara: ‘Jika adanya saya dirumah ini adalah masalah untuk mu, saya akan pergi’
Bunda: ‘Tidak nak, Nay berperilaku seperti ini pada orang baru, Bunda harap kau memaklumi’

Nay pergi tanpa pamit, sungguh rasanya lengan ku tak sabar ingin berika pisau pada nya

#

Malam ini, adalah malam Keluarga Grend yang paling mereka ingat, sebentar lagi Wanita tua itu akan lenyap. Tengah malam ku datangi kamar Wanita tua itu, dengan bawakan racun yang Britch berikan pada ku

Malam tiba, aku segera bergegas menuju kamar wanita tua itu. Tentu dengan penampilan yang ku ubah, menggunakan topeng dan pakaian yang dilengkapi perlengkapan khusus.

Tok… Tok… Tok…
Ku mendengar langkah kaki, segera ku gunakan tali untuk bersembunyi di langit-langit.
Mereka pergi. Aku mulai memasuki kamar nya, masukan racun paling mematikan ke dalam segelas air yang ada di sebelah nya. Ku pancing dengan menyentuhnya lalu bersembunyi. Wanita tua itu terbangun

Bunda: ‘Seperti ada yang menyentuh ku. Tenggorokan ku terasa kering (meminum air yang di isikan racun)’

Rasanya tak sekalipun mata ku melewati nya. Tiap leguk nya ku perhatikan

Aku segera pergi, biarlah dia merasakan sakit nya racun itu.

#

Beberapa jam berlalu, teriakan Nay terdengar jelas ditelinga ku. Aku bergegas ke ruangan wanita tua itu.

Cara: ‘Ada apa?’
Farell: ‘Bunda merasa kesakitan’
Tasya: ‘Saya akan panggil kan Smith’
Nay: ‘Sudah ku panggil kan’
Cara: ‘Siapa Smith?’
Farell: ‘Dia ahli penyakit kami, selama ini dia banyak membantu kami’
Cara: ‘Apa yang kau maksud Smith adalah Dokter?’
Farell: ‘Ya, kau bisa menyebut nya demikian’
Nay: ‘Sebaik nya tutup mulut mu Dara! Kau tak berguna disini’
Cara: ‘Mengapa saya selalu salah di mata mu?’
Nay: ‘Ikut aku (menarik tangan ku ke luar kamar)’

#

Nay: ‘Sejak kau datang ke keluarga kami, kau hanya jadi masalah disini!’
Cara: ‘Apa maksud mu? Kau salahkanku atas keadaan Bunda sekarang?’
Nay: ‘Ya! Mengapa?’
Cara: ‘Kau tak bisa salahkanku, kau tak berhak!’
Farell: ‘Cukup! Nay, sebaik nya temani Bunda, ini bukan waktu yang pas untuk fitnah Dara!’
Nay: ‘Kakak lagi-lagi bela wanita ini!’
Farell: ‘Pergi ke kamar Bunda!’

Nay pergi dengan kemarahan nya

Farell: ‘Aku akan temani Bunda, kau ikut?’
Cara: ‘Ya..’

#

Smith: ‘Bunda terselamatkan, racun belum tersebar keseluruh tubuh nya, aku sudah beri ramuan untuk penangkal racun’
Farell: ‘Benarkah itu Smith? Bunda akan membaik?’
Smith: ‘Benar Pangeran, untung saja kalian cepat menghubungiku’
Nay: ‘Racun apa yang ada di tubuh Bunda?’
Smith: ‘Jika racun ini terminum, saluran nafas korban akan terganggu, sehingga korban sulit dapatkan oksigen, jika tak di tindak lanjuti, mungkin nyawa nya dalam bahaya’

Aku tak percaya, ini kegagalanku yang pertama? Mengapa wanita tua ini selamat?

Cara: ‘Aku permisi’
Farell: ‘Dara!!’

Aku ingin menuangkan kemarahanku, tapi Pangeran itu selalu mengikuti

Farell: ‘Dara!! Tunggu, ada yang mau saya bicarakan’
Cara: ‘Ada apa?’
Farell: ‘Saya tau apa yang kau pikirkan?’
Cara: ‘Apa maksudmu?’
Farell: ‘Dara, maafkan atas ucapan Nay, Mungkin kau tak suka’
Cara: ‘Pangeran, saat kita bertemu, kau kenalkan mereka atas kebahagiaan, dan kini yang kudapat hanya tuduhan’
Farell: ‘Saya minta maaf soal tuduhan itu, tapi jangan kau salahkan kebahagiaan’
Cara: ‘Kau pintaku tak salahkan kebahagiaan atas apa yang kudapat hari ini?’
Farell: ‘Tuduhan mungkin bukan kau yang ciptakan, tapi kebahagiaan kau yang akan ciptakan’
Cara: ‘Bahkan sampai detik ini saya tak pernah ciptakan kebahagiaan, saya hanya……’
Coming soon part 4..

Posted in Puisi

Tongkat Memori

Biarlah memori ini membuku di dalam kertas bergaris ku
Pembuktian bahwa kau bagian dari cerita
Tak peduli berapa banyak bahagia
Atau kejam nya dunia mu

Jangan jadikan memori ini sebagai mata
Setelah kau lihat
Tak perlu berputar untuk kembali
Apalagi terpanah hingga tak berkedip

Jangan jadikan memori ini sebagai lengan
Saat kau genggam
Tak perlu kau pertahankan
Apalagi membawa gengaman mu kemanapun kau pergi

Tapi jadikan memori kita sebagai tongkat
Yang suatu saat memberimu petunjuk
Yang akan arahkan hidup baik mu
Yang lindungi mu dari kejam nya dunia

Posted in Novel

Bad Mission *Part 2

Hari ini, misi ku akan segera dimulai. Tugas ku kali ini menjadi peri yang menyembunyikan pisau. Menurut informasi dari amplop itu, Pangeran Farell selalu datang ke Desa untuk melihat keadaan. Aku mencari-cari hingga seseorang menepuk ku dari belakang

‘Permisi…..’
Aku tak percaya sasaran ku datang dengan cepat.
Cara: ‘Ya?’
Farell: ‘Seperti nya anda asing di Desa ini, anda bukan dari Desa ini?’
Cara: ‘Lantas mengapa? Kau akan mengusir ku?’
Farell: ‘Tidak, anda salah paham. Maksud saya baik, saya hanya bertanya, mungkin anda tersesat. Sungguh saya tak ada niat buruk’

Aku berpikir dia orang bodoh. Mungkin bisa dengan mudah ku permainkan.

Cara: ‘Saya tersesat di Desa ini, saya tak mengenali siapa pun’
Farell: ‘Berasal dari mana? Mungkin bisa saya antar’
Cara: ‘Saya tak perlu kau antar, biarlah saya tersesat, saya bahkan tak miliki tempat tinggal’
Farell: ‘Tidak, Saya rasa wanita tak pantas diabaikan, itulah gunanya pria, untuk lindungi wanita, saya tak mau jadi pria yang tak bertanggung jawab. Kini kau tanggung jawab ku’
Cara: ‘Mengapa kau bicara seperti itu? Saya tahu, setiap pria ucapkan hal demikian, dan mereka tak berkonsisten atas ucapannya’
Farell: ‘Saya hanya ucapkan apa yang pasti saya tindak. Ketika saya tak mampu bertindak, maka saya tak akan ucap’
Cara: ‘Baik, saya paham’
Farell: ‘Ikutlah dengan ku, kau akan ku kenalkan dengan orang yang kuanggap penting, Keluarga ku’

Tanpa berpikir panjang, aku manfaatkan kesempatan ini.

#

Farell: ‘Ini Kerajaan ku, kau bisa tinggal di sini, bahagia bersama Keluarga kami’

Dia bahkan tak tau kedatanganku bukan untuk bahagia.

Cara: ‘Tentu’
Farell: ‘Akan ku kenalkan dengan Keluarga ku, mari..’

Aku mengikutinya, dan didepan ku ada wanita tua, dan 2 gadis muda

Farell: ‘Ini Bunda, wanita yang paling ku cinta, dia belahan hati untuk ku’
Bunda: ‘Selamat datang nak’

Hatiku berkata wanita ini adalah orang pertama yang akan ku lenyap kan.

Farell: ‘Ini Tasya, adik bungsu, dia selalu terlihat bahagia’
Tasya: ‘Hi kak, siapa nama mu?’
Farell: ‘Bahkan kakak belum bertanya.. Siapa nama mu?’
Cara: ‘Dara..’
Bunda: ‘Bahkan nama mu indah seperti wajah mu’

Aku hanya diam mendengar pujian, bahkan ini pujian pertama untuk ku.

Nay: ‘Bunda kau puji dia berlebihan. Dia terlihat seperti wanita biasa’

Mata ku mengarah pada wanita itu, dia terlihat membenci keberadaan ku di sini.

Farell: ‘Sebaik nya bicaralah yang baik pada tamu.. Maaf kan adik ku, dia kakak Tasya, dia Nay’
Cara: ‘Tak masalah’

Bahkan rasa nya aku ingin cepat lenyap kan dia.

#

Sampai lah aku di ruangan yang mereka sebut kamar. Rasa nya ini tempat ku susun rencana siapa yang akan ku lenyapkan pertama.

Farell: ‘Ini kamar mu, kau bisa istirahat disini’
Cara: ‘Baik, Saya lelah, mungkin butuh istirahat’
Farell: ‘Tentu’

#

Semalam ku pikirkan, wanita tua itu akan ku lenyap kan terlebih dahulu. Tak bisa bayangkan betapa hancur nya sang Pangeran melihat wanita itu lenyap.

Cara: ‘Malam ini, malam ini adalah waktu mengenaskan untuk mu wanita tua’

Tiba-tiba ketukan pintu terdengar

Farell: ‘Selamat Pagi, semua sudah menunggu mu di meja makan, saya rasa kau lapar’
Cara: ‘Saya tidak lapar’
Farell: ‘Sebaik nya cintai dirimu sendiri, kau belum makan sejak kemarin’
Cara: ‘Mengapa kau peduli?’
Farell: ‘Karena dengan kepedulian setidak nya orang bisa mencintai dirinya sendiri’
Cara: ‘Saya tidak mengerti mengapa kau membuang waktu mu untuk orang yang tak kau kenal’
Farell: ‘Aku mengenal mu, kau Dara bukan? Aku pikir peduli adalah bentuk kemanusiaan bukan tentang membuang waktu’
Cara: ‘Saya akan ke meja makan’

Kau bodoh, kau peduli pada malaikat maut keluarga mu sendiri, bukan nya kau usir aku, kau malah ajak aku ke meja makan.
Coming soon part 3…..

Posted in Humanity

Lompat Tali atau Gadget?

Jika kita tinggal di Kota besar, mungkin permainan masa kecil sangat jarang terlihat. Dengan kemajuan teknologi kini anak-anak lebih memilih untuk bermain dengan gadget.

Permainan khas daerah, seperti bermain layang-layang, bermain lompat tali, dan lain nya.
Banyak yang mengatakan bahwa permainan seperti ini, mampu memberikan kebahagiaan dan kebebasan anak dalam menuangkan pikiran kekanak-kanakan nya.

Namun di era yang penuh dengan teknologi, justru anak lebih memilih bermain game online maupun offline. Tak jarang banyak anak yang rela menghabiskan waktu nya untuk bermain game dibanding belajar. Disamping itu, internet memang tak asing lagi bagi anak. Dengan bebas bisa di luncurkan kapan pun dan dimana pun.

Manfaat internet bagi anak sendiri, dapat memberi wawasan lebih luas, namun tetap harus di dampingi orang dewasa. Kini dengan semakin banyak nya tempat berbayar untuk mengakses internet seperti warnet, memiliki dampak negatif bagi anak dibawah umur, selain kurangnya pengawasan, mereka tak memikirkan waktu dan biaya. Bahkan hingga ada beberapa kasus yang rela bolos sekolah demi bermain game online.

Oleh karena itu, pengawasan orangtua terhadap anak sangat diperlukan di keadaan berteknologi seperti ini. Selain itu kebijakan orangtua pun harus ditingkatkan dengan cara membagi waktu anak belajar dan bermain.
Memperkenalkan permainan khas daerah pun sangat penting, untuk menambah nilai sosial kepada anak.

Posted in Puisi

Sahabat Atau Cinta

Hai sahabat
Kemarin peduli mu hanya sekedar
Ajakan mu ku anggap pertemanan
Pesan mu hanya sebuah tulisan

Tapi kini..
Kini aku temukan sesuatu
Bukan hanya sekedar rindu
Ini sepeti yang orang sebut Cinta

Bahkan aku ingin selalu kau pedulikan
Tak sabar dengarkan ajak mu
Menunggu hingga larut pesan mu
Apa kau berikan kegilaan untuk ku?

Kini Sahabat kuartikan cinta
Kenyataan bahwa raga ku milik seseorang
Maafkan aku
Aku hanya berimu cinta tanpa pelukan yang pantas kau miliki seutuhnya